Phuwin melangkahkan kakinya menuju ke Ibu Pond yang sedang bersama teman-temannya, Phuwin tampak gugup karena ini pertama kali mereka akan berkenalan, tadi sang Ibu juga sudah berkata akan mengenalkan mereka kepadanya.

Phuwin sangat bersyukur tentang itu, karena merasa ia bisa kapan saja untuk berani dan berkata. Phuwin rasa **dia telah jatuh cinta, tanpa sadar, tanpa ia bersiap-siap untuk merasakan ini. Ia benar-benar jatuh cinta dengan sosok bebas Pond. Selama ini, Pond lah gambaran kebebasan yang selalu dirinya inginkan, karena Phuwin selalu dipenuhi oleh ketakutan dan kebohongan.

The most free person in the world is the one who has nothing to hide, seperti Pond, dan juga apa yang keluarganya lakukan*.* Dia adalah orang yang paling bebas yang Phuwin temui. Jujur dengan perasaannya, meminta maaf atas salahnya dan menghargai dengan caranya. Dia adalah penggambaran sempurna bagaimana manusia seharusnya hidup.

Karena itu, di tahun ini, di harapan yang baru ini, Phuwin memohon belas kasih agar dunia berbaik hati padanya. Menyisikkan sedikit kebaikan untuk Pond, hanya itu harapnya.

Tentang dua belas harapan, yang akan ku wujudkan.

Phuwin menegakkan kepalanya, menatap ke arah kaca yang memantulkan wajahnya untuk menunjukkan sebuah senyuman— untuk menyapa mereka. Phuwin melangkah dengan percaya diri, namun ia memelankan langkah kakinya begitu mendengar sebuah suara yang menyapa telinganya.

Pacar Pond sekarang laki-laki?” Tanya sebuah suara membuat Phuwin menghentikan langkah kakinya. Phuwin menahan nafasnya sejenak, ia memegang pegangan tangga dengan erat. Mungkin ia tidak harus kesana, namun tubuhnya tidak mau menurut. “Look at Pond, Panya.” Ia manggil nama Ibu Pond dengan jelas.

Phuwin dapat melihat Pond yang sedang duduk bersama anak-anak tersebut, ia menatapnya dengan cinta, juga penuh kasih. Kenapa Phuwin tidak sadar sejak awal bagaimana pandangan Pond terhadap Anchara? Ia tampak begitu mencintai ponakannya tersebut. “He’s definitely want a baby. Akan menyenangkan jika kami bisa melihat Pond menjadi Ayah, *bukankah kau menginginkan cucu darinya?” Ucapnya. “*Sangat mengagetkan mengetahui Pond memiliki kekasih laki-laki.” Sambungnya lagi.

Wanita itu mengungkapkan dengan jelas sebuah ketakutan yang Phuwin simpan rapat, ketakutan itu mendobrak masuk dan membuat Phuwin merasakan tenggorokannya tercekik.