Terlalu percaya diri Pedro memberanikan dirinya untuk datang kemari, setelah menyelesaikan pekerjaannya ia membawa dirinya dengan berani disini. Gedung ini sudah tertutup setengah, namun ia memohon untuk diberikan 15 menit terakhirnya disini kepada penjaga. Tidak bertemu Pramesa bukan menjadi masalah, karena ia sudah menghukum dirinya bertahun-tahun untuk itu, menyadari nya dengan membelas dendam untuk tidak berani meraih Pramesa lagi. Namun, melihat jejak Pramesa diseluruh ruangan ini ternyata mampu membuatnya merasakan nafasnya memberat, tangannya bergetar kaku merasa ingin meraih Pramesa kembali dalam pelukannya.
Foto-foto hasil tangkapan Pramesa tertata rapi disana, namun sebagian sudah diturunkan. Pedro jelas terlambat, namun itulah tujuannya. la selalu menjadi orang yang paling terlambat- termasuk menyadari, betapa berartinya Pramesa di hidupnya.
"I didn't think you'd want to come." Sebuah suara membuat Pedro menoleh cepat. Lalu ia menemukan Pramesa disampingnya, berdiri santai seakan mereka hanya dua manusia yang tidak memiliki apa-apa. Betapa luas rasa sabar yang ia lebarkan? "Halo, Pedro." Sapanya dengan tenang.
Benar, benar sekali apa yang ingin Pramesa sampaikan. Satu kali tatapan, mampu meninggalkan kenangan. "Halo, Pramesa" dan Pedro merasa kata 'hampir' dalam kisah mereka, membuat ia ingin menyalahkan 'takdir'
Pramesa sepertinya sudah tidak mengenal rasa sakit, ataupun mungkin ia terbiasa untuk mengabaikannya, mengurung pada dasar kesadarannya— ia membawa Pedro untuk melihat beberapa pameran yang masih tersisa sebelum ia bereskan. Tetapi, ketika Pedro berhenti di sebuah kardus yang berisikan frame foto yang tidak dipajanganya dan menatap foto matanya disana— rasa sakit itu menguap kembali begitu saja.
Ada luka yang tidak tuntas, dibalik senyum dan perjalanan Pramesa yang tidak ada batas. Rasa sakit itu berdiri tegap di hadapannya, sambil menginjak dirinya kebagian paling dasar dalam lautan ketidaksiapan. Ia menatap ke arah Pedro yang berdiam tak bergeming, Pedro meraih frame tersebut.
Right, Pedro Maulik is a work of art that I could admire forever. Pramesa tidak mampu menampik itu lagi, tetapi ia menguatkan diri untuk tidak akan pernah goyah lagi dan menyakiti diri.
Pria itu menoleh ke arahnya, lalu menunjukkan frame tersebut ke arahnya. “Ini boleh gue bawa nggak? Bagus fotonya.” Pintanya dengan lembut. Pramesa tidak tahu, kapan terakhir kali ia mendengar suara Pedro bisa seperti itu? Kata-kata ‘bagaimana’ muncul dikepalanya.